Kanker
hati adalah kanker yang muncul dari hati, dan bukan akibat keganasan dari organ lain
yang menyebar ke hati atau metastasis ke hati. Tanda dan gejala klinis yang
dapat ditemukan antara lain hepatomegali atau pembesaran hati, sakit
perut, ikterus, atau gangguan hati lainnya.
1.
Penyakit
pada paru paru dan cara pencegahannya :
a. Asma
Asma adalah
keadaan saluran napas yang
mengalami penyempitan karena hiperaktivitasterhadap
rangsangan tertentu, yang menyebabkan peradangan; penyempitan ini bersifat
sementara.
Penyebab
Pada penderita asma, penyempitan saluran
pernapasan merupakan respon terhadap rangsangan yang pada paru-paru normal
tidak akan memengaruhi saluran pernapasan. Penyempitan ini dapat dipicu oleh
berbagai rangsangan, seperti serbuk sari, debu, bulu
binatang, asap, udara dingin dan olahraga.
Pada suatu serangan asma, otot polos
dari bronki mengalami kejang dan jaringan yang melapisi saluran udara mengalami
pembengkakan karena adanya peradangan (inflamasi) dan pelepasan lendir ke dalam
saluran udara. Hal ini akan memperkecil diameterdari
saluran udara (disebut bronkokonstriksi) dan
penyempitan ini menyebabkan penderita harus berusaha sekuat tenaga supaya
dapat bernapas.
Sel-sel
tertentu di dalam saluran udara, terutama mastosit diduga
bertanggungjawab terhadap awal mula terjadinya penyempitan ini.Mastosit di
sepanjang bronki melepaskan bahan seperti histamin dan leukotrien yang
menyebabkan terjadinya: - kontraksi otot polos
- peningkatan pembentukan lendir - perpindahan sel darah
putih tertentu ke bronki. Mastosit
mengeluarkan bahan tersebut sebagai respon terhadap sesuatu yang mereka kenal
sebagai benda asing (alergen), seperti serbuk sari, debu halus
yang terdapat di dalamrumah atau
bulu binatang.
Tetapi asma juga bisa terjadi pada
beberapa orang tanpa alergi tertentu. Reaksi yang
sama terjadi jika orang tersebut melakukan olah
raga atau berada dalam cuaca dingin. Stres dan
kecemasan juga bisa memicu dilepaskannya histamin dan leukotrien.
Sel lainnya yakni eosinofil yang
ditemukan di dalam saluran udara penderita asma melepaskan bahan lainnya (juga leukotrien),
yang juga menyebabkan penyempitan saluran udara.
Asma juga dapat disebabkan oleh tingginya
rasio plasma bilirubin sebagai
akibat dari stres
oksidatif yang dipicu oleh oksidan.[1]
Gejala
Frekuensi dan
beratnya serangan asma bervariasi. Beberapa penderita lebih sering terbebas
dari gejala dan
hanya mengalami serangan serangan sesak napas yang singkat dan ringan, yang
terjadi sewaktu-waktu. Penderita lainnya hampir selalu mengalami batuk danmengi (bengek)
serta mengalami serangan hebat setelah menderita suatu infeksi virus,
olah raga atau setelah terpapar oleh alergenmaupun iritan. Menangis
atau tertawa keras juga bisa menyebabkan timbulnya gejala dan juga sering batuk
berkepanjangan terutama di waktu malam hari atau cuaca dingin.[2]
Suatu serangan asma dapat terjadi secara
tiba-tiba ditandai dengan napas yang berbunyi (mengi, bengek),
batuk dan sesak napas.Bunyi mengi terutama
terdengar ketika penderita menghembuskan napasnya. Di lain waktu, suatu
serangan asma terjadi secara perlahan dengan gejala yang secara bertahap
semakin memburuk. Pada kedua keadaan tersebut, yang pertama kali dirasakan oleh
seorang penderita asma adalah sesak napas, batuk atau
rasa sesak di dada. Serangan
bisa berlangsung dalam beberapa menit atau bisa berlangsung sampai beberapa
jam, bahkan selama beberapa hari.
Gejala awal pada anak-anak bisa berupa
rasa gatal di dada atau di leher. Batuk kering di malam hari
atau ketika melakukan olah raga juga bisa merupakan satu-satunya gejala.
Selama serangan asma, sesak napas bisa
menjadi semakin berat, sehingga timbul rasa cemas. Sebagai reaksi terhadap
kecemasan, penderita juga akan mengeluarkan banyak keringat.
Pada serangan yang sangat berat, penderita
menjadi sulit untuk berbicara karena sesaknya sangat hebat. Kebingungan, letargi(keadaan
kesadaran yang menurun, dimana penderita seperti tidur lelap,
tetapi dapat dibangunkan sebentar kemudian segera tertidur kembali) dan
sianosis (kulit tampak kebiruan) merupakan pertanda bahwa persediaan oksigen
penderita sangat terbatas dan perlu segera dilakukan pengobatan. Meskipun telah
mengalami serangan yang berat, biasanya penderita akan sembuh sempurna,
Kadang beberapa alveoli (kantong
udara di paru-paru) bisa pecah dan menyebabkan udara terkumpul di dalam rongga pleura atau
menyebabkan udara terkumpul di sekitar organ dada.
Hal ini akan memperburuk sesak yang dirasakan oleh penderita.
Diagnosa
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejalanya
yang khas.
Untuk memperkuat diagnosis bisa dilakukan
pemeriksaan spirometri berulang. Spirometri juga
digunakan untuk menilai beratnya penyumbatan saluran udara dan untuk memantau
pengobatan.
Menentukan faktor pemicu asma seringkali
tidak mudah. Tes kulit alergi
bisa membantu menentukan alergen yang memicu timbulnya gejala
asma. Jika diagnosisnya masih meragukan atau jika dirasa sangat penting untuk
mengetahui faktor pemicu terjadinya asma, maka bisa dilakukan bronchial
challenge test.
Pengobatan
Obat-obatan bisa membuat penderita asma
menjalani kehidupan normal. Pengobatan segera untuk mengendalikan serangan asma
berbeda dengan pengobatan rutin untuk mencegah serangan.
Agonis reseptor beta-adrenergik merupakan
obat terbaik untuk mengurangi serangan asma yang terjadi secara tiba-tiba dan
untuk mencegah serangan yang mungkin dipicu oleh olahraga. Bronkodilator ini
merangsang pelebaran saluran udara oleh reseptor beta-adrenergik.
Bronkodilator yang
bekerja pada semua reseptor beta-adrenergik (misalnya
adrenalin), menyebabkan efek samping berupa denyutjantung yang
cepat, gelisah, sakit kepala dan tremor (gemetar)
otot. Bronkodilator yang hanya bekerja pada reseptor beta2-adrenergik(yang
terutama ditemukan di dalam sel-sel di paru-paru),
hanya memiliki sedikit efek samping terhadap organ lainnya. Bronkodilator ini
(misalnya albuterol), menyebabkan lebih sedikit efek samping
dibandingkan dengan bronkodilator yang bekerja pada semua reseptor
beta-adrenergik.
Sebagian besar bronkodilator bekerja
dalam beberapa menit, tetapi efeknya hanya berlangsung selama 4-6 jam. Bronkodilator yang
lebih baru memiliki efek yang
lebih panjang, tetapi karena mula kerjanya lebih lambat, maka obat ini lebih
banyak digunakan untuk mencegah serangan.
Bronkodilator tersedia
dalam bentuk tablet, suntikan
atau inhaler (obat yang dihirup) dan sangat efektif.
Penghirupan bronkodilator akan mengendapkan obat langsung di
dalam saluran udara, sehingga mula kerjanya cepat, tetapi tidak dapat
menjangkau saluran udara yang mengalami penyumbatan berat. Bronkodilator per-oral (ditelan)
dan suntikan dapat menjangkau daerah tersebut, tetapi memiliki efek samping dan
mula kerjanya cenderung lebih lambat.
Jenis bronkodilator lainnya
adalah theophylline. Theophylline biasanya
diberikan per-oral (ditelan); tersedia dalam berbagai bentuk, mulai
dari tablet dan sirup short-acting sampai kapsul dan tablet long-acting. Pada
serangan asma yang berat, bisa diberikan secaraintravena (melalui pembuluh darah).
Jumlah theophylline di
dalam darah bisa diukur di laboratorium dan harus dipantau
secara ketat, karena jumlah yang terlalu sedikit tidak akan memberikan efek,
sedangkan jumlah yang terlalu banyak bisa menyebabkan irama jantung abnormal atau
kejang. Pada saat pertama kali mengonsumsi theophylline, penderita
bisa merasakan sedikit mual atau
gelisah. Kedua efek samping tersebut, biasanya hilang saat tubuh dapat
menyesuaikan diri dengan obat. Pada dosis yang
lebih besar, penderita bisa merasakan denyut jantung
yang cepat atau palpitasi (jantung berdebar). Juga bisa
terjadi insomnia (sulit tidur), agitasi (kecemasan,
ketakuatan), muntah, dan kejang.
Corticosteroid menghalangi
respon peradangan dan sangat efektif dalam mengurangi gejala asma. Jika
digunakan dalam jangka panjang, secara bertahap corticosteroid akan
menyebabkan berkurangnya kecenderungan terjadinya serangan asma dengan
mengurangi kepekaan saluran udara terhadap sejumlah rangsangan.
Tetapi penggunaan tablet atau suntikan corticosteroid jangka
panjang bisa menyebabkan:
§ gangguan proses penyembuhan luka
§ terhambatnya pertumbuhan anak-anak
§ hilangnya kalsium dari tulang
§ perdarahan lambung
§ katarak prematur
§ peningkatan kadar gula darah
§ penambahan berat badan
§ kelaparan
§ kelainan mental.
Tablet atau suntikan corticosteroid bisa
digunakan selama 1-2 minggu untuk mengurangi serangan asma yang berat. Untuk
penggunaan jangka panjang biasanya diberikan inhaler corticosteroid karena
dengan inhaler, obat yang sampai di paru-paru 50 kali lebih banyak
dibandingkan obat yang sampai ke bagian tubuh lainnya. Corticosteroid per-oral (ditelan)
diberikan untuk jangka panjang hanya jika pengobatan lainnya tidak dapat
mengendalikan gejala asma.
Cromolin dan nedocromil diduga
menghalangi pelepasan bahan peradangan dari sel mast dan
menyebabkan berkurangnya kemungkinan pengkerutan saluran udara. Obat ini
digunakan untuk mencegah terjadinya serangan, bukan untuk mengobati serangan.
Obat ini terutama efektif untuk anak-anak dan untuk asma karena olah raga. Obat
ini sangat aman, tetapi relatif mahal dan harus diminum secara teratur meskipun
penderita bebas gejala.
Obat antikolinergik (contohnya atropin dan ipratropium
bromida) bekerja dengan menghalangi kontraksi otot polos dan pembentukan
lendir yang berlebihan di dalam bronkus oleh asetilkolin.
Lebih jauh lagi, obat ini akan menyebabkan pelebaran saluran udara pada
penderita yang sebelumnya telah mengonsumsi agonis reseptor
beta2-adrenergik.
Pengubah leukotrien (contohnya montelucas, zafirlucas dan zileuton)
merupakan obat terbaru untuk membantu mengendalikan asma. Obat ini mencegah
aksi atau pembentukan leukotrien (bahan kimia yang dibuat oleh
tubuh yang menyebabkan terjadinya gejala-gejala asma).
Pengobatan
Pengobatan untuk serangan asma
Suatu serangan asma harus mendapatkan
pengobatan sesegera mungkin untuk membuka saluran pernapasan. Obat yang
digunakan untuk mencegah juga digunakan untuk mengobati asma, tetapi dalam
dosis yang lebih tinggi atau dalam bentuk yang berbeda.
Agonis reseptor beta-adrenergik digunakan
dalam bentuk inhaler (obat hirup) atau sebagai nebulizer (untuk
sesak napas yang sangat berat). Nebulizer mengarahkan udara
atau oksigen dibawah
tekanan melalui suatu larutan obat, sehingga menghasilkan kabut untuk dihirup
oleh penderita.
Pengobatan asma juga bisa dilakukan dengan
memberikan suntikan epinephrine atau terbutaline di
bawah kulit dan aminophyllinstheophylline) melalui infus
intravena.
Penderita yang mengalami serangan hebat
dan tidak menunjukkan perbaikan terhadap pengobatan lainnya, bisa mendapatkan
suntikancorticosteroid, biasanya secara intravena (melalui
pembuluh darah).
Pada serangan asma yang berat biasanya
kadar oksigen darahnya rendah, sehingga diberikan tambahan oksigen. Jika
terjadidehidrasi, mungkin
perlu diberikan cairan intravena. Jika diduga terjadi infeksi,
diberikan antibiotik.
Selama suatu serangan asma yang berat,
dilakukan:
§ pemeriksaan kadar oksigen dan karbondioksida dalam
darah
§ pemeriksaan fungsi paru-paru (biasanya dengan spirometer atau peak
flow meter)
§ pemeriksaan rontgen dada.
Pengobatan jangka panjang
Salah satu pengobatan asma yang paling
efektif adalah inhaler yang mengandung agonis reseptor
beta-adrenergik. Penggunaan inhaler yang berlebihan bisa menyebabkan
terjadinya gangguan irama jantung.
Jika pemakaian inhaler
bronkodilator sebanyak 2-4 kali/hari selama 1 bulan tidak mampu
mengurangi gejala, bisa ditambahkan inhaler corticosteroid,
cromolin atau pengubah leukotrien. Jika gejalanya menetap, terutama
pada malam hari, juga bisa ditambahkantheophylline per-oral.
Pencegahan
Serangan asma dapat dicegah jika faktor
pemicunya diketahui dan bisa dihindari. Serangan yang dipicu oleh olah raga
bisa dihindari dengan meminum obat sebelum melakukan olah raga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar